Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah

Kain Sumba Memesona Dunia


TIDAK sekadar indah, selembar kain tenun Sumba juga penuh makna. Relasi masyarakat dengan kain tenun Sumba dalam kehidupan mereka diawali saat kelahiran, disusul pernikahan, hingga akhirnya kematian. Sayang, keindahan kain Sumba justru lebih banyak dikagumi orang asing.

Sumba kain atau berarti juga kain Sumba merujuk pada hinggi, yaitu busana adat lelaki Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hinggi berbentuk lembaran empat persegi panjang dengan ukuran sisi terpanjang sekitar 250 sentimeter dan sisi terpendek 80-150 sentimeter.

Di Sumba Timur, sentra kain Sumba terdapat di sejumlah pesisir utara dan timur laut, yaitu di Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili. Sementara di Sumba Barat, sentra kain Sumba, antara lain, terdapat di Kodi, yang tepatnya berada di Sumba bagian barat daya.

Apabila dahulu kain Sumba hanya dikerjakan kaum perempuan, saat ini banyak pula kaum lelaki yang terlibat dalam pembuatan kain Sumba.

Hal ini karena manfaat ekonomi dari kain Sumba yang semakin menguat. Pembuatan kain Sumba tidak sekadar menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sumba, tetapi telah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat di daerah tersebut.

Namun, seperti halnya persoalan di banyak tempat di Tanah Air, tidak banyak anak muda yang tertarik belajar membuat kain Sumba. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk membuat kain Sumba sulit dipenuhi anak-anak muda yang pada masa kini memiliki banyak tuntutan dalam hidup. Salah satunya adalah tuntutan untuk bersekolah.

Perajin kain Sumba dari Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Rambu Margaretha, mengatakan, saat ini pembuatan kain Sumba lebih banyak dilakukan orang dewasa. Saat ini bahkan banyak orang tua berusia di atas 70 tahun yang meneruskan tradisi menenun kain di Sumba.

”Orang-orang tua itu membuat kain Sumba tanpa perlu menggambar atau membuat sketsanya lebih dulu. Motif atau coraknya langsung dibuat pada saat menenun dengan cara diikat. Sekarang banyak yang tidak bisa seperti itu. Motif atau corak kain harus digambar lebih dahulu di atas kain, baru kemudian diikat,” tutur Rambu.

Proses pembuatan kain Sumba, dikatakan Rambu, memakan waktu cukup lama, tergantung dari kerumitan motifnya. Salah satu kain Sumba yang memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah kain Sumba yang motifnya mirip kain patola dari India. ”Terlalu banyak yang diikat,” kata Rambu.

Harga kain Sumba juga dibedakan menurut jenis pewarna yang digunakan. Untuk kain Sumba yang menggunakan pewarna sintetis, dikerjakan selama 5-6 bulan, harganya Rp 500.000-Rp 1 juta. Sementara kain Sumba yang menggunakan pewarna alami, dikerjakan selama 8 bulan-2 tahun, harganya jauh lebih mahal dari kain Sumba dengan pewarna sintetis.

Dari tumbuhan

Umumnya, bahan pewarna alami diperolah dari tumbuhan yang ada di Sumba. Zat pewarna biru (kawaru) dibuat dari daun woru atau nila atau tarum (Indigo tinctoria). Adapun zat pewarna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu (Morinda citrifolia). Zat pewarna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur.

Proses pembuatan kain Sumba melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan corak, pewarnaan, kemudian menenun.

Menurut Rambu, pewarnaan dilakukan rata-rata 3-4 kali dan maksimal 6 kali.

Corak kain Sumba dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni kelompok figuratif yang merupakan representasi dari bentuk manusia dan binatang, kelompok skematis (menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris), serta kelompok bentuk pengaruh asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (China).

Upacara adat

Selain dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, kain Sumba juga menjadi bagian dalam berbagai upacara adat.

Umbu Charma, perajin kain Sumba dari Rende, Sumba Timur, mengatakan, kain Sumba digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pemakaman.

Dalam upacara pemakaman merapu, kain Sumba digunakan untuk membungkus jenazah. ”Untuk bangsawan, kain yang dibutuhkan sekitar 100 lembar, sedangkan untuk warga biasa, kain yang dibutuhkan 10-15 lembar,” kata Umbu.

Memesona dunia

Meski tak banyak generasi muda yang tertarik melestarikan kain Sumba, di antara daerah penghasil tenun ikat lungsi di Tanah Air, tenun ikat Sumba merupakan yang paling menarik perhatian dunia. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya kain Sumba yang menjadi koleksi sejumlah museum dan kolektor di luar negeri.

Salah satunya seperti yang terdapat di Museum Basel, Swiss. Kepala Museum Tekstil, Jakarta, Indra Riawan dalam pembukaan pameran wastra Sumba beberapa waktu lalu mengatakan, Museum Basel memiliki koleksi 5.000 lembar kain tradisional Indonesia dan 2.000 di antaranya merupakan kain Sumba. Kain tenun Sumba, tambah Indra, juga banyak dimiliki sejumlah kolektor dan museum di Belanda, Australia, serta Amerika Serikat.

Pemerhati kain, Judi Achmadi, memaparkan, kain Sumba mulai menarik perhatian masyarakat Eropa pada akhir abad ke-19. Mereka sangat tertarik dengan kain Sumba karena memiliki ragam hias dengan desain yang tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Masyarakat Eropa yang terpesona kemudian membawa kain Sumba untuk dijadikan hiasan yang digantung di dinding rumah, diselempangkan di tempat tidur, dan dibentangkan di atas meja atau tempat tidur. Beberapa di antaranya kemudian juga menjadi koleksi museum. Sampai kapan keindahan kain Sumba hanya dikagumi masyarakat bangsa lain?

Sumber

This entry was posted in . Bookmark the permalink.

Leave a reply