Tiket Pesawat Murah

Tiket Pesawat Murah

Candi Muaro Jambi, Wisata Favorit Saat Lebaran


Candi Muaro Jambi yang terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, menjadi destinasi wisata favorit bagi masyarakat setempat, bahkan warga luar daerah, saat menikmati libur Lebaran 1434 Hijriah.

Muhammad Havis alias Ahok (35), salah seorang pemandu wisata di kawasan Candi Muaro Jambi mengatakan bahwa dalam sehari lebih dari 2.000 orang pengunjung datang ke kawasan situs percandian itu.

"Memasuki hari ketiga lebaran ini bahkan semakin ramai. Banyaknya pengunjung hingga memacetkan jalan menuju kawasan percandian," ujarnya di Sengeti, Ibu Kota Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (10/8/2013).

Menurut Ahok, maraknya pemberitaan tentang Candi Muaro Jambi diperkirakan menjadi salah satu penyebab semakin terkenalnya situs percandian terluas di Asia Tenggara itu.

Ia menyebutkan bahwa sejak awal 2012 jumlah pengunjung Candi Muaro Jambi semakin bertambah setiap bulannya. Rata-rata pengunjung mencapai 6.000 orang dan didominasi oleh wisatawan lokal.

"Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Sudah ada respons positif dari masyarakat memilih berkunjung ke Candi Muaro Jambi. Salah satunya tentu dengan peningkatan fasilitas wisata di sini agar pengunjung lebih betah," jelasnya.

Menurut Ida (30), salah seorang pengunjung, dirinya sengaja datang ke Candi Muaro Jambi untuk berlibur bersama keluarga. "Kami tinggal dan bekerja di Palembang, Sumatera Selatan. Namun keluarga ada di Jambi, sekalian mudik, kami memilih Candi Muaro Jambi untuk berwisata, karena memang di Jambi sangat jarang tempat wisata alam seperti ini. Apalagi di sini tempat dan suasananya sejuk dan bagus, lokasinya juga di tepi sungai," paparnya.

Lokasi candi tidak terlalu jauh dari Kota Jambi, karena hanya berjarak sekitar 30 kilometer atau sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Lokasinya yang berada tepat di jalur Sungai Batanghari bisa menjadi lokasi favorit untuk berwisata sejarah maupun alam.

Dengan luas kurang lebih mencapai 12 kilometer persegi, di areal dijumpai sedikitnya 82 situs candi dari berbagai ukuran. Semua candi kini terawat dengan rapi di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.

Situs ini membentang dari barat ke timur sepanjang 7,5 kilometer dari tepian sungai Batanghari. Dulunya tempat ini belum banyak dikenal orang kecuali penduduk setempat. Baru sekitar tahun 1820 secara terbatas situs ini mulai terungkap setelah kedatangan SC Crooke, seorang perwira Inggris, ketika dalam tugasnya mengunjungi daerah pedalaman Batanghari.

Kemudian dilanjutkan seorang sarjana Belanda, bernama FM Schnitger dalam ekspedisi kepurbakalaan di Wilayah Sumatera antara 1935-1936. Sejak saat itu, situs ini mulai terkenal.

Berawal dari itulah, maka sejak tahun 1976 hingga kini situs ini mulai secara serius dilakukan penelitian dan preservasi arkeologi.

Di dalam situs tidak hanya terdapat beberapa buah candi, tetapi juga menyimpan berbagai artefak kuno,seperti arca, keramik, manik-manik, mata uang kuno serta berbagai jenis peninggalan lainnya.

Selain itu, terdapat delapan kompleks percandian, kolam kuno bagi penduduk setempat disebut kolam Tanggorajo serta diperkirakan lebih dari 60 buah menapo atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno. Dijumpai juga sedikitnya enam kanal atau parit-parit kuno buatan manusia masa lalu, diberi nama Parit Sekapung, Johor dan Melayu.

Dalam kawasan candi ini diduga masih banyak candi atau benda lainnya yang belum terkelola, akibat keterbatasan tenaga dan kondisi geografis kawasan itu sebagian hutan belukar, sehingga sulit untuk dikerjakan.

Sumber

This entry was posted in . Bookmark the permalink.

Leave a reply